F Adhi Permana

Muhasabah Kita

Posted on: May 3, 2008

Bismillaahirrakhmaanirrakhiim,
Saudaraku, semoga keselamatan dan berkah selalu terlimpah atasmu,
Wahai Saudaraku, sesungguhnya kitalah yang berkehendak kepada Allah SWT (QS
Faathir 15). Oleh karenanya, sudah sewajibnya kita harus benar-benar mengenal Tuhan
kita, yang mempunyai asma Allah, yang ghaib tetapi wajib wujudnya dan harus kita
kenali sebenar-benarnya.
Allah adalah nama dari Dzat yang wajib wujudnya tersebut. Dzat yang maha kuasa,
maha mengetahui dan Yang dhahir dan Yang bathin serta distinct (unik – tunggal).
Nama saja, tidak memiliki manfaat maupun mudharat apapun. Nama Tuhan, pada kurun waktu perguliran zaman bisa dan mungkin berubah, tetapi Dzatnya tetap satu. Yang wajib kita sembah, ingat dan kita mohon perlindungan dariNya adalah kepada Dzat yang memiliki nama Allah (QS Thaa-Haa 14) yang dekat dengan kita dan keberadaanNya adalah nyata (QS Qaaf 16). Dia-lah yang harus selalu kita ingat dan “lihat” setiap kita Sholat dan berdzikir sejalan dengan keluar masuknya nafas dari pagi hingga petang, baik dalam posisi duduk, berdiri, maupun berbaring (tanpa mengurangi aktifitas kitasebagai makhluq sosial).
Kebanyakan dari kita — mohon maaf — seringkali merasa puas dengan pengetahuan
yang kita miliki (QS Yunus 7,8 ) dan terlalu cepat menduga-duga hal yang sangat mutlak keberadaanNya ini dengan santainya (QS Saba’ 52, 53). Padahal Tuhan adalah asal dan tempat kembali kita semua (QS Faathir 18 ) sehingga sangatlah celaka bila kita tidak mengenal tempat kembali kita sendiri (QS Al Isra’ 72), karena mati yang selamat adalah berhasil kembalinya Roh dan Rasa kehadhirat Allah SWT (perlu diingat jasad akan kembali ke tanah). Mungkin gugatan keyakinan ini dianggap aneh, mengada-ada dan terlalu mempermasalahkan hal yang tidak substansial, tetapi demi Dzat yang memelihara alam semesta, kita harus berani bertanya pada kita sendiri; sudahkah kita betul-betul mengenal Tuhan kita, sehingga berada pada jalan yang dikehendakiNya, sesuai dengan do’a kita (dalam Al-Fathihah) yang selalu kita baca setiap rekaat dalam Sholat? Sudahkah kita benar-benar mengenal Rabb kita yang kewajiban akan mengenalnya lebih utama daripada Sholat itu sendiri? Apakah kita hanya terjebak didalam keyakinan tradisi yang kebetulan melingkupi lingkungan kita? Karena pada dasarnya Sholat itu untuk mengingat Allah (QS Thaa-Haa 14). Rasa kita harus tertambatkan pada Allah. Permasalahannya, rasa kita selama ini terdominasi oleh gembira, sedih, kecewa, marah, bangga, iri, cemas, dan sejuta rasa keduniawian lainnya. Lalu, dimana letak kekhusyu’an kita? Sedangkan tradisi yang turun temurun tidak menjamin hakekat kebenaran (QS As Shaffaat 69,70) dan Islam pada mulanya asing dan akan dirasa asing pula pada suatu saat karena berbeda dengan tradisi biasanya (Hadits Nabi).

Saudaraku, syahadat yang kita ucapkan bukanlah kalimat formalitas yang hanya untuk dihafal, melainkan kalimat agung yang penuh makna dan harus kita fahami secara sadar. Bagaimana kita dapat mengaku menyaksikan bahwa tiada sesembahan selain Allah, sedang kita tidak mengenal Dzat yang memiliki asma Allah? Bagaimana kita bisa menyaksikan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah sedang Nabi telah
meninggalkan kita berabad-abad lamanya? Saudaraku, sesungguhnya sebelum kita
terlahir kedunia, secara sendiri-sendiri dan oleh Tuhan sendiri, kita telah dipersaksikan
secara sadar bahwa Allah-lah Tuhan kita. Akankah kita mengingkari dan tidak ingin
menyadari persaksian itu? Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kehadhirat Tuhanmu
dengan damai. Untuk mengenal dan menuju kepadaNya, tentulah ada jalannya. Untuk
melatih dan mendekatkan diri kepadaNya pun ada caranya. Intinya adalah pengesaan
murni kepada Allah. Mengingat dari zaman ke zaman, dari masa ke masa tantangan
umat berbeda-beda, maka penekanan tatacara riyadhah pun dapat berbeda, serta
diberikan pula tiap umat tersebut aturan dan cara-cara yang jelas (QS Al Maidah 48 dan
Al Hajj 57). Tetapi memang, hal ini terasa sangat asing (QS Shaad 7). Pertanyaan-pertanyaan tentang mungkinkah terdapat utusan Allah saat ini? Bukankah Muhammad adalah masa lalu? Bukankah pemikiran semacam ini justru menyeret kita kedalam perdebatan tanpa henti dan kontra produktif? – sangat mungkin bermunculan.

Saudaraku, semoga petunjuk dan ridho Allah terlimpah atas kita semua. Yang penting kita bersama-sama meluruskan niat untuk ma’rifat billah atau mengenal Allah dengan sebenarnya. Untuk menggapai hidayah Ilahi, kita perlu bersama-sama introspeksi dan membuka hati kita dan open minded akan kebenaran yang boleh jadi agak asing bagi kita. Seperti halnya proses pencarian Tuhan oleh Ibrahim dan kegelisahan Muhammad sebelum menerima wahyu. Jangan sampai karena keangkuhan kita, informasi keberadaan kebenaran dan pemberi peringatan ditengah kita itu justru menjauhkan kita dari kebenaran karena prasangka dan antipati terhadap kondisi yang sebenarnya telah
menjadi sunnatullah ini (QS Faathir 42).
Saudaraku, Allah tidak mungkin kita lihat dengan mata jasad, karena keberadaan Allah memang tidak seperti keberadaan makhluqNya. Tetapi Allah wajib wujudnya dan dapatkita kenali dengan mata hati. Bahkan ketika ditanya oleh seseorang apakah Imam ‘Ali pernah melihat Tuhan, maka Beliau menjawab; “Mana mungkin aku menyembah Tuhan yang tidak aku lihat!” Dan benarlah ketika Nabi Musa pingsan ketika Allah memperlihatkan diri, karena puncak pertemuan dengan Tuhan adalah kematian, dan Nabi Muhammad pernah mengisyaratkan kepada kita untuk; “Muttu Qabla ‘Anta Al- Muttu” (belajarlah “mati” sebelum kamu mati). Saudaraku, kita, bahkan tidak bisa mengedipkan mata dan menggerakkan niat dalam hati tanpa kekuatan Allah. Tiada kekuatan dan daya upaya keculi dengan Allah. Hanya Dialah Dzat yang patut kita takuti, karena sesungguhnya alam semesta ini berada dalam genggamannya. Masihkah kita tidak ingin mengenal Tuhan kita? MengenalNya tidak cukup hanya dengan mengenal nama-namaNya, mengerti sifat-sifatNya, tetapi harus sampai “masuk” kedalamNya dan menghadirkanNya sampai yakin (QS Al Hijr 99).
Keghaiban Allah (sehingga Allah disebut Al-Ghaib) bukan menjadi penghalang bagi
hambaNya untuk mengenaliNya. Karena Allah tidak menyosokkan diriNya dalam dimensi manusia atau mahluk yang lain (karena ini tidak mungkin), maka dipilihlah seorang manusia dari golongan mereka sendiri sebagai perantara dan wakil Allah di bumi. Hal ini berlangsung terus menerus karena pengetahuan akan Tuhan sejati bukanlah monopoli umat-umat terdahulu, tetapi sampai akhir zaman (QS Al Anbiya 7 dan An Nahl 43). Nabi Muhammad, sebagai seorang nabi, masih memerlukan Jibril sebagai perantara untuk mengenaliNya. Terlebih lagi kita, sangatlah sombong bila kita sudah merasa mengenaliNya hanya berdasar dugaan subyektif kita belaka (QS Al Maidah 35) tanpa adanya uapaya untuk menanyakan kepada ahlinya, sebagai konsekuensi kesadaran akan kelemahan dan keterbatasan manusia. Jangan pula kita diserupakan dengan Iblis karena ia enggan beroleh ilmu dari dan memandang sebelah mata terhadap Adam. Semoga kita bukan umat-umat yang akan atau sedang mendapat azab dari Allah SWT lantaran kita mendustakan utusan-utusanNya yang berada ditengah-tengah kita, sebagaimana umat-umat terdahulu dilumatkan dan diazab karena selalu memperolok dan mendustakan Rasul-rasulNya, dan semoga kita bukan pula tergolong bangsa Iblis yang tidak mengakui Adam (sebagai mahluk yang lebih berilmu dan mendapat delegasi dari Allah saat itu) dengan tidak mau tunduk kepadanya sambil mengatakan; “Aku lebih baik darinya!” (QS Shaad 76).
Saudaraku, bila apa yang kami sampaikan ini ada benarnya, itu semata-mata dari Allah
SWT, Dzat agung penguasa alam raya sejati. Kami berlindung kepada Allah dari segala
sifat riya’, ujub dan pemahaman-pemahaman yang menyesatkan. Semoga kita selalu
mendapat petunjukNya. “Kalau tidaklah karena nikmat Tuhanku, pastilah aku termasuk orang-orang yang diseret – kedalam kesesatan/neraka” (QS As Shaffaat: 57).

 
Semoga bermanfaat!
Wassalam,
Kawula, Ramadhan 1420 H

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

May 2008
M T W T F S S
« Jan   Oct »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Blog Stats

  • 35,303 hits

RSS Quote of the Day

RSS Berita IT

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.
%d bloggers like this: