F Adhi Permana

Bagaimana Menghargai Pendidikan?

Posted on: November 20, 2007

Pendidikan, saya yakini sebagai salah satu cara paling beradab dalam memanusiakan manusia dan memaksimalkan potensi kemanusiaan. Setelah mengalami, melihat dan mengamati pendidikan di Indonesia saat ini, rasanya ada semakin besar harapan untuk lebih memposisikan pendidikan sebagai suatu cara untuk membangun manusia kearah yang semestinya, mengingat salah satu impact pendidikan adalah terbentuknya paradigma, budaya dan mindset manusia dalam jangka yang sangat panjang dan tidak mudah untuk diubah.

Saya menduga ada pencampuradukan yang tidak proporsional antara pengajaran dan pendidikan, meskipun keduanya memang berkaitan dan sangat dekat. Pengajaran, dalam hemat saya adalah proses transfer of knowledge and practice, sedangkan pendidikan adalah proses penanaman nilai kaidah keilmuan dan kesemestaan. Lebih dari sekedar transfer. Dalam pendidikan semuanya lebih terlibat secara intrinsik sekaligus genuine. Artinya bukan basa basi dan tidak bisa hanya dinilai secara kuantitatif. Secara sederhana, output-nya akan berupa kegemaran belajar yang tumbuh secara natural, yang akan hidup tanpa lembaga bimbel sekalipun!

Pada setiap saat musim penerimaan siswa atau mahasiswa, para orang tua biasanya mulai disibukkan dengan sederet daftar pilihan sekolah untuk anaknya sekaligus konsekuensi logis biayanya. Umumnya, biaya sekolah semakin mahal. Kata orang, semakin mahal sekolah, semakin baguslah kualitasnya karena fasilitasnya boleh jadi lebih menunjang dari yang lain. Ini kelihatannya tidak sepenuhnya demikian. Mengingat, seperti telah dikemukakan sebelumnya, kita semua masih lebih melihat sekolah sebagai tempat pengajaran meski yang ingin kita maksud adalah “pendidikan”.

Berangsur-angsur, awarenes mengenai pendidikan dari segala lapisan tampaknya mulai menggembirakan. Itulah mungkin salah satu penjelasan tentang mulai maraknya sekolah plus, sekolah alam dan homeschooling! Mereka semuanya kelihatannya ingin keluar dari kotak pendidikan (baca=sekolah) yang selama ini diusung dan dipindahtangankan dari generasi ke generasi. Semoga kesemuanya memang menuju arah yang lebih positif, terlepas dari prakteknya yang sekarang mungkin masih memiliki parameter masing-masing.

Saya punya impian, di Indonesia ini semakin maju zaman, semakin bersih tatalaksana pemerintahan, semakin berhasil perekonomian juga semakin terjangkau juga pendidikan! Ini yang sekarang masih upside-down. Zaman di klaim sudah lebih maju, perekonomian juga dianggap makin berhasil (meski parameternya adalah pendapatan perkapita yang masih bisa dipertanyakan aktualitasnya), tapi biaya sekolah, yang notabene dianggap sebagai transaksi untuk mendapatkan pendidikan, malah lebih mahal dan semakin tidak terjangkau. Ironisnya, kemahalan ini mengatasnamakan tinginya “mutu” pendidikan yang akan diperoleh siswa.

Apakah pendidikan memang semahal itu? Menurut saya tidak! Pendidikan seharusnya hal pertama yang paling mudah didapatkan oleh manusia dan dapat terjangkau oleh siapapun dan mudah didapat dari berbagai sumber. Mulai dari Adam hingga Muhammad, pendidikan dalam arti yang lebih luas selalu menjadi hal yang pertama dan utama. Pendidikan terhadap Adam dideskripsikan dengan pengetahuan akan nama-nama benda, yang bisa dimaknai sebagai pengenalan terhadap alam dan gejala-gejalanya yang sangat beraneka ragam, hingga malaikatpun harus menjadikan Adam sebagai referensi mengenainya. Sementara Muhammad digugah untuk mampu membaca ayat-ayat Tuhan yang berserakan di alam raya sebagai sumber pencerahan dan tools dalam berkehidupan. Tersirat disini bahwa yang ditanamkan adalah motivasi dan nilai kegemaran belajar sebagai sikap mental dan “powerful weapon” dalam mengarungi kehidupan yang harus dihadapi.

Sekali lagi pendidikan itu harusnya murah dan terjangkau bagi siapa saja. Bahkan pendidikan yang bermutu sekalipun! Kita sebenarnya adalah bagian dari pendidikan itu. Sekolah hanyalah salah satu tempat yang mencoba mensimplifikasi pendidikan dalam format yang lebih mudah diterapkan secara masal. Mari kita tebarkan pendidikan yang berisi sekaligus terjangkau saat ini mulai dari keluarga kita sendiri!

Wassalam, adhi

1 Response to "Bagaimana Menghargai Pendidikan?"

Saya sepakat dengan apa yang ditulis.
Btw…apakah ini Bang Adhi Permana, lulusan FISIP UNDIP Semarang, Mantan Ketua Presma?
Klo iya, tolong kirim e-mail dong ke e-mail saya….
Makasih ya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

November 2007
M T W T F S S
    Dec »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Blog Stats

  • 35,303 hits

RSS Quote of the Day

RSS Berita IT

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.
%d bloggers like this: